Pak Ogah

Masih ingat ungkapan “cepek dulu donk”? Ya, ungkapan itu kerap dikaitkan dengan tokoh pak Ogah yang pernah populer pada dekade 1980-an. Ke-populeran tokoh maupun ungkapan khasnya tersebut bahkan masih terasa hingga saat ini.

 

Sepintas, ungkapan tersebut terasa sangat sederhana dan wajar. Bahkan seandainya sebuah pertanyaan dilon-tarkan tentang latar belakang sosok pak Ogah ini,  mungkin jawabnya ia hanya-lah seorang pemuda yang bermodalkan ijazah SD.

 

Tetapi sadarkah kita bahwa dibalik keluguan dan kesederhanaan sosok ini, dirinya telah menjelma menjadi figur khas yang mampu mewakili  -meminjam istilah Hegel-Zeigeist (ruh zamannya) saat itu (atau mungkin hingga saat ini?). Pak Ogah menjadi sosok contoh manusia rasional pada zamannya, manusia yang selalu memperhitungkan aspek untung dan ruginya. Manusia dengan karakter homo economicus.

 Pertanyaannya, benarkah sosok Pak Ogah merupakan contoh tipe Manusia rasional dengan karakter homo eco-nomicus? Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Berikutnya, pertanyaan yang muncul adalah apakah benar manusia adalah sosok makhluk yang serakah (homo economicus) dan nilai rasio-nalitasnya hanya dianggap sebagai pengejewantahan sosok yang selalu ber-pikir untung dan rugi?

Jawabannya, kembali mungkin benar mungkin juga salah. Yang jelas, jawaban dari hal-hal tersebut tidak akan mem-bawa kepada sebuah jawaban yang pasti!

 

Akan tetapi, kenapa kemudian pembahasan-pembahasan yang terkait dengan tema manusia dan masyarakat terus dilakukan oleh para filosof meskipun mereka tahu hasil yang akan dicapai akan bersifat relatif? Jawa-bannya terletak pada keyakinan mereka terhadap pentingnya arti sebuah sistem dalam hidup manusia dan sistem yang baik adalah sistem yang keluar  yang  tersebut haruslah cerminan dari nilai-nilai filososfis manusia atau masyarakat

 

Namun ketidakpastian ini tak berarti menghentikan kita dari pengkajian hal ihwal nilai filosofis manusia dan masya-rakat. Karena, bagaimanapun atau siapapun yang bercita-cita membangun sebuah tatanan atau sistem yang baru. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengkaji secara mendalam terhadap nilai filosofis manusia ataupun masyarakat terlebih dahulu. Jika tidak seperti ini, maka nonsense bisa mem-perjuangkan cita-citanya.

 Sejarah mencatat, para perumus sistem –para filosof– baik itu sistem politik ataupun sistem ekonomi, mereka akan memulainya dari sebuah per-tanyaaan mendasar seperti, siapakah manusia itu? Bagaimana karakter dasar manusia? Apa yang baik bagi manusia? Contohnya, ketika Plato  meru-muskan “Republic”, atau  Thomas Hobbes dengan “Leviathan”-nya. Maksud penting yang bisa kita ambil dari pelajaran sejarah ini adalah bahwa memperjuangkan sesuatu tatanan baru, sistem yang baru, ataupun dunia baru tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kajian tentang filosofi manusia dan masyarakat.

Tinggalkan komentar

Filed under Celoteh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s