Mengakhiri Kebuntuan Distribusi Kapitalisme

“Problem ekonomi adalah bagaimana memenuhi kebu-tuhan yang tak terbatas de-ngan sarana pemenuhan yang terbatas”. Demikian salah satu penggalan pemikiran eko-nomi kapitalisme yang sering dilontarkan seorang dosen kepada para mahasiswanya pada saat pertama mereka menempuh kuliah ekonomi.  

Menurut pencetus gagasan ini, Adam Smith yang merupakan Professor Glasgow University, persoalan tersebut cukup diatasi dengan mekanisme pasar. Artinya pemenuhan kebutuhan seseorang ditentukan sejauh mana ia memiliki kemampuan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar. Semakin kaya orang tersebut maka semakin banyak kebu-tuhan barang dan jasa yang dapat ia penuhi. Sebaliknya se-seorang yang kelaparan namun tidak memiliki uang untuk membeli makanan maka ia akan terus kelaparan bahkan hingga mati.

 

Agar kemampuan masya-rakat dalam mengakses barang dan jasa semakin tinggi maka dorongan untuk berproduksi terus didorong setinggi-ting-ginya yang diukur dengan GNP (gross national product). Hara-pannya gap antara kebutuhan yang tak terbatas dan keinginan yang terbatas dapat diper-sempit. Teori ini dikenal dengan  Trickle down effect. Per-tumbuhan ekonomi yang tinggi dengan sendirinya akan me-netes ke bawah. Tetesan inilah yang diharapakan akan dinikmati oleh mereka yang berada di bawah.

 

Sayangnya dampak dari teori yang mereduksi peran pemerintah dan menyerahkan sepenuhnya ekonomi pada mekanisme pasar ini sangat mengerikan. Sebagian kecil kelom-pok masyarakat memang menikmati kekayaan yang berlimpah namun jutaan lainnya hidup dalam kemis-kinan. Amerika yang  dianggap se-bagai kampiun kapitalisme pun menghadapi problem yang sama. Saat ini ini diperkirakan jumlah penduduk miskin di negara tersebut sekitar 35 juta orang atau sekitar 13 persen dari populasi penduduknya.

 Economic Walfare yang pertama kali diterapkan oleh Otto Von Bis-mark, kanselir Jerman pada tahun 1881 untuk mengeliminasi semakin kuatnya pengaruh Partai Sosialime Jerman yang terus mengkritik kelemahan kapitalime tetap me-nyisakan problem serius. Bahkan Inggris di masa pemerintahan Margaret Tathcher hingga Blair telah mengaborsi konsep tersebut. Kebijakan ini tidak jauh berbeda dengan negeri ini. Intervensi pemerintah diminimalisir semak-simal mungkin. Salah satunya dengan mengurangi subsidi dan menjual aset-aset vital kepada swasta.

Akibatnya ketimpangan eko-nomi terus terjadi tidak hanya terjadi diantara penduduk suatu negara kapitalis namun juga antar negara di dunia ini. Kecaman negara-negara miskin Afrika ter-hadap negara-negara G-8 yang terus ingkar janji membatu mereka merupakan salah satu fenomena yang menjadi cermin kegagalan ka-pitalisme.

 Bagaimana dengan Islam?Islam mengakui adanya realitas ketimpangan ekonomi. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Meski demikian Islam memberikan solusi untuk mengatasi ketimpangan tersebut.

Islam berbeda dengan dengan kapitalisme yang memandang masyarakat secara kolektif tanpa melihatnya per individu disamping tidak adanya konsep batasan kebutuhan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang inidividu.

 

Islam memandang bahwa setiap manusia di dalam masyarakat memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kesejahteraan masyarakat tidak diukur dari se-berapa besar GNP yang dihasilkan oleh suatu negara namun sejauh mana pemenuhan kebutuhan dasar tiap-tiap individu yakni pangan sandang dan papan terpenuhi.

 Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hak yang lebih baik dari anak adam ada kecuali ia memiliki rumah untuk berteduh, pakaian yang menutupi auratnya dan se-jumlah roti dan minuman.” (H.R. Tirmidzi) Secara individual setiap laki-laki yang telah menginjak dewasa didorong untuk bekerja dan menjadi kewajiban jika ia telah memilik ta-nggungan baik itu anak, istri atau-pun orang tua yang tak lagi mampu bekerja.

Ingatlah bahwa hak mereka atas kalian adalah agar kalian berbuat baik kepada mereka dalam mem-berikan makanan dan pakaian.” (H.R. Ibnu Majah)

 Bagi mereka yang memiliki keterbasan modal ataupun skill maka negara berkewajiban untuk melengkapi keterbatasan tersebut dengan memberikan sejumlah mo-dal kerja dan bekal keterampilan.

Satu waktu seseorang mengadu kepada Rasulullah tentang ke-miskinan yang menimpanya. Rasulullah kemudian membe-rikannya dua dirham. Satu dirham untuk memenuhi kebutuhan hi-dupnya dan selebihnya digunakan untuk membeli kapak untuk mencari kayu.

 

Pemberian tanah oleh Rasululullah dan para Khula-faurrasyidin kepada sejumlah orang untuk dikelola dan kebijakan Umar memberikan bibit kepada sejumlah petani merupakan secuil contoh inter-vensi negara untuk menjamin distribusi aset-aset ekonomi di samping mendorong pertum-buhannya.

 Tanggungjawab ekonomi tidak hanya dilimpahkan kepa-da individu dan keluarga namun juga menjadi tanggung jawab masyarakat.

Rasulullah bersabda: “tidak beriman seseorang diantara ka-lian yang tidur dalam perut kenyang sementara ia menge-tahui bahwa tetangganya dalam keadaan lapar.” (H.R. Al Bazzar)

 Bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan psikis da-lam kegiatan ekonomi seperti anak yang belum baligh, orang yang sudah tua, cacat atau gila maka pemenuhan kebutuhan hidupnya menjadi tanggung-jawab keluarganya. Jika mereka tidak mampu maka negara mengambil alih tanggungjawab tersebut dengan mengambilkan biaya dari baitul maal

Islam tidak hanya berhenti dalam tataran konsep dan anjuran namun juga metode. Islam misalnya tidak mewajibkan zakat kepada mereka yang kaya namun lebih dari itu memerintahkan kepada Kha-lifah, pemilik otoritas pemerintahan dalam Islam, untuk memaksa dan menghukum mereka yang enggan. Seorang yang wajib dan bekerja namun malas juga akan diberi sanksi. Disinilah relevansi pene-rapan ekonomi Islam dengan ke-wajiban menegakkan negara Khilafah.

 Dengan komparasi partikular ini jelas bahwa Islam memiliki keunggulan dibanding kapitalisme dalam persoalan distribusi. Belum lagi konsep kehidupan lainnya. Jika demikian, masihkah kita ragu dengan Islam?

1 Komentar

Filed under Focus

One response to “Mengakhiri Kebuntuan Distribusi Kapitalisme

  1. euis amalia

    sistem ekonomi Islam fokus pada persoalan distribusi, silahkan baca anas zarqa, distributiv justice.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s