May be Yes, May be No

 

“Kapan kawin?”. Yang ditanya tampak bingung, sedikit ragu-ragu terucap satu kata, “Mei”. Kelanjutannya kita pasti sama-sama hapal. Saat kita pertama kali melihat iklan ini, berbagai spekulasi nama produk mungkin sempat terpikirkan. Hingga akhirnya kita ber “o” panjang ketika diakhir iklan nongol  logo merek suatu rokok mild.

 

Tak terlihat batang rokok sama sekali. Bahkan asapnya sekalipun. Regulasi pemerintah memang ketat untuk iklan produk jenis ini. Hasilnya? Iklan-iklan rokok justru menjadi semakin “cantik”. Tak hanya itu, pada 2006 lalu beberapa perusahaan rokok bahkan sampai membukukan laba hingga 13 digit angka! Jumlah yang jauh dari biasa! Nampaknya wanti-wanti pemerintah tentang penyakit jantung serta impotensi tak ada efeknya sama sekali.

 

“Dana cekak tapi ingin punya media sendiri?”.  Itulah yang saya alami di kampus. Jangankan koran kampus, sekedar buletin pun berdasar kalkulasi akan susah didanai. Akhirnya? Muncullah gagasan untuk membuat lembar opini mini. “Terbit” mingguan dengan format foto kopian. Ukuran? Hanya ¼ kertas A4! Hemat, penulisannya cepat, dan yang lebih penting respon pembacanya pun tidak mengecewakan.

 Ada dua kesamaan dari dua cerita di atas. Pertama, sama-sama adanya suatu kondisi yang membatasi. Yang satu regulasi, lainnya dana. Kesamaan kedua adalah sama-sama ada upaya  untuk menyiasatinya.

Aturan boleh ketat, dana boleh terbatas, tapi tak ada kata “tidak bisa” dengan kreatifitas! Ya, kreatifitas memang harta kasat mata yang luar biasa.  

 Kreatifitas telah lama menjadi bahasan yang dikupas panjang lebar oleh banyak pakar.  Pada dasarnya kreatifitas adalah bagian dari teknik problem solving. Edward de Bono memiliki istilah sendiri: lateral thinking. Meski demikian, kreatifitas membutuhkan iklim yang kondusif.  Alasannya sederhana, kadang  batasan antara ide kreatif dan ide ngawur amat tipis. Batasan itu bernama realisasi. Ide ngawur selamanya akan dianggap ngawur, kecuali ada yang berhasil merealisasikannya, dan sukses! Untuk mendobrak kebekuan kreatifitas memang membutuhkan teknik tersendiri. Salah satunya adalah brainstorming. Teknik sederhana yang masih saya pakai hingga saat ini. Caranya mudah dan murah.

Dalam grup terdiri dari maksimal 12 orang, sebuah permasalahan dilempar. Berikutnya, tiap orang dipersilakan memberi masukan. Sebanyak, setidak biasa, sengawur apapun ide-ide tersebut akan dicatat. Tidak ada sanggahan. No judgement. Di ujung sesi, barulah tiap ide ditimbang dan dikritisi.

 Dengan brainstorming, hambatan mental –untuk menelurkan gagasan kreatif yang keluar dari kebiasaan– bisa hilang. Barangkali ide yang tidak biasa akan memberi hasil yang luar biasa. Siapa tahu? Yach, maybe ….

Tinggalkan komentar

Filed under M-Corner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s