Mahasiswa Ngesot

Masih ingat cerita tentang mahasiswa yang masuk penjara? Pada suatu hari sekelompok mahasiswa demo menyerang kebijakan pemerintah. “Presiden bodoh!…Presiden bodoh!” begitu seorang mahasiswa berteriak. Dan, akhirnya mahasiswa tadi ditangkap  sembari dihukum 20 tahun penjara. Dua tahun karena dia melanggar pasal tentang penghinaan kepala negara, dan 18 tahun karena dia membocorkan rahasia negara.

 

Penggalan cerita di atas sebetulnya amat populer di kalangan mahasiswa. Tapi kalau ada mahasiswa yang sampai hari ini belum pernah mendengar kisah tersebut, pasti dia belum membaca kolom ini, atau tidak sempat baca buku kumpulan tulisan Harry Roesli yang berjudul Republik Funky, atau malah dia justru temannya sang presiden tadi!

 

Banyak mahasiswa memang takut di penjara. Makanya, amat sedikit yang berminat menjadi “Aktivis Mahasiswa.” Dalam catatan mereka, aktivis itu kerjanya cuma sibuk merancang demo. Tetapi mereka sering lupa mengerjakan latihan soal. Akibatnya, yang paling beruntung di antara para aktivis sejati, kalau tidak DO, ya lulus dengan cara ngesot!

 

Bagaimana kalau ada mahasiswa mengaku aktivis, tapi enteng lulusnya? Gampang saja, berarti dia bukan dari golongan aktivis sejati. Lalu bagaimana kalau sang mahasiswa lama lulusnya tapi nggak pernah ikut demo? Ehm…ini sih kexxxxxan!

 

Tapi, seorang kawan di sebuah PTN punya argumen jitu tentang masalah kelulusan ini. Buat apa cepat-cepat lulus katanya. Bukankah dulu untuk tembus SPMB susah banget perjuangannya? Bayangkan, dulu harus belajar ekstra keras menjelang lulus SMU. Belum lagi harus pergi les di tengah hujan dan terik matahari.

 

Jadi, mendingan kita optimalkan saja jatah masa kuliah yang ada. Toh, pepatah bilang, makin lama di perjalanan pasti lebih banyak yang dilihat. Asyik bukan?

 

Nah kalau mau kebut-kebutan kuliah, lebih baik masuk universitas yang iklannya belum lama saya baca di koran. Sebut saja namanya universitas “serba cepat.” Bunyi iklannya begini: Kuliah S1. Masa studi 2,5 tahun. Kuliah tiap hari Sabtu (Weleh.. jangan-jangan dosennya juga merangkap masinis kereta ekspres Bogor-Jakarta Kota!).

 Belum lama, di sebuah koran terbitan Jakarta, ada yang menulis bahwa aktivis mahasiswa itu semestinya cepat lulus. Lihatlah Soekarno katanya. Meski menjadi aktivis, namun kuliahnya selesai tepat waktu. Sayangnya, teladan tadi justru tak diikuti keturunan Soekarno sendiri. Salah seorang putrinya yang kini aktivis sebuah partai malah tak selesai kuliah. Makanya di negeri ini, calon presiden dilarang sarjana.  Jadi harus bagaimana seorang aktivis mesti kuliah? Menurut saya, biarlah mahasiswa kuliahnya ngesot. Yang penting hasilnya berbobot. Gitu aja kok repot!

1 Komentar

Filed under Lagak Mahasiswa

One response to “Mahasiswa Ngesot

  1. nggak masalah sich gimana kita ngejalanin kuliah, mo ngesot, mo lari, mo jalan juga nggak masalah, toh ini berimbas pada masing-masing individu itu sendiri untung dan ruginya. yang masalah itu kalo mahasiswa nggak punya visi buat “bangsanya”. kuliah cuman kuliah and memuaskan hati dosen, ip-nya bagus trus lulus( sederhana banget ).sampe-sampe nggak melek fakta disekelilingnya. mo spp mahal, mo PTN di-BHMN-isasi, mo pendidikan mahal pun yang penting kuliah mulus and nilai mulus. kalo dah kaya gini gimana ? dimana keidealisan mahasiswa, mana bukti mahasiswa sebagai kaum yang intelek ? buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo sama kondisi sekelilingnya aja nggak peduli? buat apa kuliah kalo jadinya sama-sama aja kaya orang disekelilingnya yang jadi bebek di belakang para penjajah ?
    ini nich yang diharepin ma kaum kapitalis dan agresor barat yang nggak ingin manusia timur bangkit apalagi manusia MUSLIM. kalo bangkit mereka akan jadi boomerang buat ngalahin para penguasa kafir saat ini. uh . . . kasian banget yang nggak mo ngehiasin masa-masa kuliahnya dengan melek habitatnya.lebih kasian lagi yang ngebiarin intelektulitas-nya nggak tersalurkan pada jalan yang benar. dan yang paling kasian mereka nggak mo ngenal visi dan misi Pencipta-nya di dunia, apalagi pada saat kuliah yang notabene intelektual tinggi dan bnyaknya info yang bisa didapat dengan akses yang mudah. jangan terjebak dengan tradisi kehidupan orangtua yang mo “nrimo” aja dengan berbagai kebijakan yang terjadi. be proudly with your god vision on the world.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s