Jika Al Ghazali Masih Hidup

Al-Ghazali (w. 505 H.) dalam bukunya al-Iqtishâd fi al-I’tiqâd berkata bahwa agama dan kekuasaan adalah “dua saudara kembar”. Agama adalah pondasi dan kekuasaan merupakan penjaganya. Bagi al-Ghazali agama (Islam) tidak bisa dipisahkan dari negara.

 

Sosok al-Ghazali memang bukanlah representasi beragamnya madzhab teologi (kalâm), fiqh, ataupun pemikiran politik umat Islam. Tetapi jika dicermati, sejarah panjang kesadaran dan praktik politik umat sejak generasi awal sejalan dengan pandangan al-Ghazali. John L. Esposito dalam Islam and Politics mengakui kenyataan ini dengan mengatakan: “Whet-her under Rightly Guided Caliphs or Umayyad and Abbasid rulers, the ideological foundation of the comunity / state was Islam.”

 

Sebagai imam besar madzhab al-Asy’ari dalam teo-logi, asy-Syafi’i dalam fiqh, dan Sunni dalam pemikiran politik, pemikiran al-Ghazali memiliki banyak pengikut di dunia Islam, termasuk Indo-nesia. Magnum opus-nya: Ihyâ ‘Ulûm ad-Dîn menjadi buku bacaan wajib bagi santri-santri NU. Di negeri tetangga kita, Malaysia, Naquib al-Attas dengan ISTAC-nya juga banyak mengembangkan ide-ide al-Ghazali. Namun tam-paknya tidak semua pengikut al-Ghazali saat ini sepakat dengan pandangannya me-ngenai relasi agama Islam dengan negara.

 

Diantara alasannya karena menyepakati pandangan al-Ghazali di atas berarti melawan arus global Seku-larisme, Pluralisme dan De-mokrasi. Sekularisme yang salah satu doktrinnya adalah desakralisasi politik telah mengharamkan peran agama dalam ruang publik dan akan memposisikan pemikir seperti al-Ghazali sebagai “pelaku maksiat”. Pluralisme dengan relativitas kebenarannya tidak akan rela dengan adanya “dominasi satu agama” dalam negara. Dan Demokrasi yang mencita-citakan “kedaulatan rakyat” telah menjadikan “ke-daulatan Tuhan” sebagai musuh.

 

Keberatan yang diajukan Sekularisme, Pluralisme, dan Demokrasi terhadap terhadap peran agama, termasuk Islam, dalam ruang publik bukan tanpa alasan. Tiga ide ini sen-diri dicetuskan dalam setting sejarah tertentu di Barat yang diantaranya adalah trauma yang mereka alami ketika ge-reja mendominasi ruang publik. Ada kejumudan ilmu pengetahuan, inkuisisi, dan berbagai kezaliman atas nama tuhan, dan sebagainya.

 

Apakah dunia Islam me-ngalami hal yang serupa? Tentu tidak. Zaman keemasan Madinah, Baghdad, Damas-kus, Mesir, dan Andalusia jus-tru dialami ketika Islam mendominasi ruang publik. Tapi memang masalahnya adalah bahwa zaman ke-emasan pun tidak terlepas dari noda-noda hitam sejarah. Banyak pertumpahan darah yang disebabkan perebutan kakuasaan, perseteruan antar madzhab, agama, dan se-bagainya.

 

Noda-noda hitam inilah yang selalu dijadikan alasan oleh para penganut Seku-larisme, Pluralisme, dan Demokrasi untuk menolak pe-ran Islam di ruang publik. Sebenarnya tidak ada satu sejarah peradaban pun yang lepas dari noda hitam. Selalu ada gap antara idealitas dengan realitas. Di sisi lain, sikap terhadap berbagai cacat sejarah yang ada sangat ter-gantung pada sudut pandang yang diambil.

 

Bagi orang yang memiliki sudut pandang seperti al-Ghazali, berbagai noda hitam dalam sejarah Islam lebih disebabkan oleh human error: kebodohan, ketamakan, tidak adanya profesionalitas, dan sebagainnya; bukan kesa-lahan Islam. Karena Islam yang sempurna juga dipahami dan dilaksanakan oleh ma-nusia yang tidak sempurna. Demikian pula ketika per-adaban Sekular-Demokratik dikritik karena tidak juga mampu menjelma dalam wujud sempurna dalam level praksis, jawaban yang muncul adalah: “masih proses”atau “human error”.

 Bagaimanapun, me-ngambil posisi melawan arus memang tidak nyaman. Tetapi kalaulah al-Ghazali masih hidup di zaman ini, tentu ia akan tetap pada posisinya. Karena ini adalah masalah keyakinan dalam memandang kehidupan; yaitu bahwa Islam bukan sekedar mengatur masalah ibadah ritual yang cukup dilaksanakan oleh individu, melainkan juga mengatur masalah politik, so-sial, ekonomi, dan hubungan internasional yang mem-butuhkan adanya negara untuk mengimplementasi-kannya; bukan untuk ke-baikan komunal, melainkan rahmatan lil ‘âlamîn.

1 Komentar

Filed under KProject

One response to “Jika Al Ghazali Masih Hidup

  1. Agustina damanik

    liat tulisannaya y mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s