Penjajahan Gaya Baru

BARAT tidak lagi memfokuskan pada ghazwu al-fikri (perang pemikiran) melawan kaum Muslim dan ghazwu ats-tsaqafi (perang budaya), tetapi juga tidak segan-segan melakukan invasi militer (ghazwu al-asykari) terhadap negeri-negeri Islam. Pendek kata, kaum Muslim telah dikepung dari segala penjuru oleh serangan ganas dan licik peradaban Barat.

Buku ini mengungkap wajah peradaban Barat yang penuh dengan “jerawat” imperialis, membeberkan bentuk dan berbagai cara peradaban Barat menginvasi dan mengeksploitasi kaum Muslim. Semua itu dalam rangka memperkokoh dominasi mereka atas kaum Muslim, agar  seluruh harta kekayaan muslim yang tersimpan di negeri-negeri Islam menjadi budak dan sarana yang harus melayani seluruh kepentingan peradaban Barat.

Seorang futurolog berkebangsaan Amerika, John Naisbitt, suatu ketika meramalkan bahwa akan terjadi benturan peradaban (clash civilization) antara dunia Islam dan Barat. Menyikapi hal ini, beberapa waktu lalu ada cendikiawan Muslim yang mengusulkan agar konflik dunia Islam dengan Barat dihentikan  setelah itu diupayakan untuk menumbuhkan iklim simbiosis mutualisme, yaitu hubungan saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Konflik dan pergulatan peradaban Barat dan Islam sempat “membeku” dengan munculnya peradaban sosialis-komunis yang saat itu direpresentasikan oleh Uni Soviet dan Cina. Namun, setelah ambruknya kekuasaan Uni Soviet (1992), yang ada di hadapan peradaban Barat adalah peradaban Islam. Itu berarti, Islam menjadi batu sandungan yang sangat tajam, yang bisa menjegal kepentingan-kepentingan Barat-kapitalis yang saat ini Amerika Serikat sebagai komandannya dan mampu menjadi potensi yang mampu menggusur serta meluluhlantakkan peradaban Barat di masa depan.

Negara-negara imperialis sadar, bahwa Islam bukan hanya agama ritual sebagaimana agama-agama lain. Islam adalah ideologi yang melahirkan peradaban dan sistem kehidupan, baik pada skala individu, masyarakat maupun negara yang notabene akan mampu meluluhlantakkan peradaban Barat.

Islam telah dipandang sebagai ancaman bagi hegemoni imperialisme Barat yang dikomandani Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Dengan harga apa pun dan berapa pun, Barat akan berupaya mati-matian mempertahankan kepentingan dan eksistensi imperialismenya; tentu saja termasuk mempertahankan sekian banyak rezim-rezim boneka yang dipakai layaknya “anjing penjaga” untuk melawan dan membasmi musuh-musuhnya.

Kekhawatiran atau ketakutan Barat terhadap Islam makin menjadi-jadi setelah melihat kebangkitan dan perkembangan Islam politik, Islam ideologis, atau yang biasa mereka cap dengan “Islam fundamentalis”. Berbagai cara dilakukan untuk membungkam gerakan Islam politik dan Islam ideologis yang mencita-citakan penerapan Islam. Sebab, gerakan seperti itulah yang menjadi ancaman nyata bagi peradaban Barat pada masa datang.

Kebencian Barat terhadap Islam ideologis ini tergambar dalam manuver-manuver politik yang diluncurkannya. Kubu Barat pada dasarnya ingin menyembunyikan maksud yang sebenarnya, yang tidak lain adalah mewujudkan berbagai kepentingan ideologi, politik, maupun ekonominya. Kepentingan politiknya tergambar dari upayanya untuk menancapkan hegemoninya atas dunia. Kepentingan ekonominya terefleksikan dari hasratnya untuk mengeruk kekayaan alam di berbagai negeri yang berada dalam pengaruhnya, terutama negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia.
Mengapa negara kapitalis imperialis memusuhi Islam? Jawabannya sederhana. Islam sebagai agama yang ideologis dianggap sebagai ancaman utama bagi ideologi kapitalisme. Kenyataan ini secara terbuka diungkap oleh Huntington dalam bukunya The Clash of Civilitation and The Remaking of World Order. Huntington menyatakan musuh terbesar peradaban Barat pasca perang dingin adalah Islam. Bahkan Huntington, tidak menyebut fundamentalisme sebagai ancaman, tapi Islam itu sendiri, seperti yang ditulis dalam bukunya, “Problem yang mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme Islam, (tetapi) adalah Islam (itu sendiri), sebagai sebuah peradaban yang penduduknya meyakini ketinggian kebudayaan mereka dan dihantui rendahnya kekuatan mereka”. Jika demikian apa yang harus dilakukan kaum Muslim? Buku ini juga memaparkannya kepada pembaca agar bersikap waspada terhadap berbagai bentuk serangan musuh-musuh Islam yang mereka kemas dalam bentuk yang menarik guna memperdayai kaum Muslim.

ABDUL RAHMAN
Mahasiswa FISIP UI;
Anggota Community of Book Lovers (CYBER) Universitas Indonesia

Tinggalkan komentar

Filed under Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s