Memacu Peran Saudagar

Negeri-negeri Muslim dikaruniai sumber daya yang melimpah: 70 persen energi dan 40 persen dari bahan dasar (raw material) dunia tersimpan di perut bumi mereka. Namun, kontribusi mereka dalam perdagangan internasional pada tahun 2004 baru sekitar 6 persen dari total volume perdagangan dunia.

Sejarah Islam tak lepas dari peran para pedagang. Beberapa buku sejarah menyebutkan Islam masuk ke nusantara melalui perantaraan para saudagar ini. Dalam ajaran Islam, aktivitas perdagangan memang bukan sesuatu yang asing.  Nabi Muhammad SAW, ketika masih muda juga dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur.

Sayangnya dewasa ini umat Muslim justru tak mampu bersaing dalam perdagangan internasional. Kontribusi negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada tahun 2004 baru sekitar 6 persen dari total volume perdagangan dunia. Padahal dalam organisasi tersebut berhimpun sebanyak 57 negara.

Sebanyak 22 negara anggota OKI memang tergolong negara berkembang (underdeveloped countries). Namun tak hanya itu, masalah juga muncul di internal OKI sendiri. Pada 2003 misalnya, perdagangan antar negara OKI hanya berkisar 13 persen dari total perdagangan pada tahun tersebut. Sementara itu perdagangan dengan negara-negara di luar OKI volumenya justru delapan kali lebih besar.

Jika dilihat dari sisi impor, nilai absolut impor dari sesama anggota OKI mencapai 42 miliar dollar AS pada 1999 dan meningkat menjadi 77,4 miliar dollar AS pada akhir 2003. Tapi pada saat yang sama jumlah impor mereka dari negara non-Muslim berjumlah 311,3 dan 461 miliar dollar AS.

Sementara itu, total ekspor ke negara non anggota OKI lebih tinggi ketimbang jumlah impor. Jadi, meskipun impor yang dilakukan anggota OKI besar,namun tetap saja mereka masih membukukan surplus perdagangan. Celakanya, ekspor dari negara-negara Muslim masih didominasi oleh minyak. Padahal minyak adalah barabng yang tak bisa dipulihkan kembali (non renewable resources).

Tak ada satu pun negara Muslim saat ini yang menjadi pusat perdagangan dunia seperti di masa khilafah. Menurut M Luthfi Hamidi dalam bukunya Gold Dinar ( 2007) ganjalan muncul karena: minimnya infrastruktur; lemahnya faktor struktural; masih lekatnya tradisi historis dengan penjajah sehingga sulit mengubah orientasi dagang’ dan tak ada kemauan politik dari para penguasa.

Selain itu, dewasa ini diperlukan sistem moneter yang tak lagi mengekploitasi negara-negara berkembang. Oleh karena itu, diperlukan juga penerpaan sistem mata uang emas (gold dinar) sebagai alat pembayaran dalam perdagangan internasional. Dengan langkah ini diharapkan perdagangan di dunia Islam akan semakin bergairah.

Tinggalkan komentar

Filed under Islam Today

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s