Ketika Tuhan Dilecehkan

Kamis lalu, seorang kawan mengundang saya lewat sms. Kebetulan di kampusnya di bilangan Ciputat sedang berlangsung bazar buku-buku politik. Pucuk dicinta ulam tiba. Saya memang sedang perlu beberapa buku baru untuk tambahan koleksi.

Kawan tadi belum muncul sewaktu saya tiba. Kesempatan, saya bisa mengisi perut dulu yang sudah keroncongan. Setelah kenyang dan shalat dzuhur, akhirnya kawan saya datang. Kami langsung mendatangi tempat bazar. Beberapa buku lawas saya temukan. Tak lupa kami membeli biografi Ahmad Zewail, ahli kimia asal Mesir yang mendapat hadiah nobel itu.

Kami sedikit terkejut ketika tiba-tiba seorang pemuda muncul. Ia mungkin mahasiswa di kampus tersebut. Tulisan di kaosnya provokatif juga. Di situ tercetak dengan huruf tebal-tebal: TUHAN ATHEIS SEJATI : KARENA TUHAN TIDAK MENUHANKAN SESUATU.
Barangkali, maksud tulisan tersebut hendak mengajak mahasiswa untuk tidak ber-Tuhan karena Tuhan pun katanya tidak ber Tuhan.

Saya heran, kesal, jengkel dan juga marah. Bukankah ungkapan tersebut amat ganjil bagi orang-orang yang berakal. Apa maksudnya Tuhan atheis sejati ? Bukankah ungkapan tersebut menegaskan bahwa tuhan itu memang benar-benar wujud. Jika Nietzsche pernah berujar bahwa akan ada suatu masa dimana ada kepercayaan dengan tidak ada kepercayaan. Bukankah dengan mengambil sikap dengan menjadi atheis berarti menuhankan atheis itu sendiri. Bukankah menuhankan berarti menjadikan sesuatu menjadi tuhan ?

Menghakimi Tuhan, bukankah menjadi hal sangat ganjil ? Bukankah Tuhan adalah Sesuatu yang supranatural; bukankah Tuhan juga bersifat metafisik ? Jadi bagaimana mungkin kita menghakimi Tuhan hanya dengan menganalogikan sesuatu yang terjadi di dunia yang natural lalu kemudian kita nisbatkan pula pada sesuatu yang bersifat supranatural. Logiskah ini?
Kang Jalal pernah menyebutkan bahwa analogi berarti paduan kata dari “an” yang berarti tidak dan logis yang berarti masuk akal. Jadi analogi sendiri adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Bahkan Cak Nur sendiri menyebut orang yang menggunakan analogi adalah orang-orang yang tidak mampu berargumen secara logis.

Tuhan atheis sejati berarti Menyimpulkan hakikat Tuhan itu sendiri. Hanya saja ini pun menjadi sangat bermasalah. Bagaimana mungkin kita bisa sampai pada suatu hakikat pada sesuatu yang bersifat metafisik. Bukankah seorang Kant sendiri berujar bahwa manusia tidak mungkin mampu mencapai nomena bahkan pada hal-hal yang bersifat empiris sekalipun. Jadi, bagaimana mungkin kita mampu mencapai sebuah kesimpulan tentang hakikat Tuhan, jika untuk yang empirik pun kita tidak mampu mencapainya.

Sekalipun kemudian mereka menggunakan Silogismenya Aristoteles, “segala sesuatu yang tidak menuhankan sesuatu berarti atheis”. Berikutnya, “Tuhan tidak menuhankan sesuatu”. Konklusinya berarti Tuhan atheis. Sepintas konklusinya terasa masuk akal hanya saja lagi-lagi ini sebuah kesimpulan yang bermasalah. Bahkan seandainya Aristoteles membaca premis-premis tersebut, tentunya ia akan menolak.

Pertama, karena Aristoteles sendiri seorang empirisme. Tentunya ia menolak jika silogismenya di gunakan pada hal-hal yang bersifat metafisik. Kedua, konklusinya jelas akan di tolak karena tidak menghasilkan sebuah pengetahuan sejati. Kenapa?
Karena untuk memperoleh pengetahuan sejati teori mesti kian dimurnikan dari unsur-unsur yang berubah, yakni dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan subyektif manusia itu sendiri. Dan hal ini tidak saja menjadi prinsip dari kalangan empirisme melainkan juga digunakan oleh kalangan dari mazhab rasionalisme. Dan ternyata bukankah pesan Tuhan sebagai atheis sejati sarat dengan dorongan dan perasaan subyektif si penulis pesan tersebut (manusia) ?
Akhirnya, siapapun kita, sejatinya adalah makhluk yang diberikan keistimewaan akal.

Dengannya manusia ditinggikan derajatnya dengan mahkluk-makhluk lainnya bahkan dengan malaikat sekalipun. Orang yang berakal semestinya tak asal beda dan mencari sensasi. Tuhan saya, Tuhan Kita, Tuhan itu adalah ALLAH SWT dan tiada Tuhan selain diri-NYA.

Oleh AKBAR H

Tinggalkan komentar

Filed under Celoteh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s