Hilangnya Makna Sebuah ‘Maha’

Kata ‘maha’ biasanya dikaitkan dengan sesuatu yang agung dan tinggi nilainya atau derajatnya. Jika sebuah kata digabung dengan awalan maha maka kata tersebut akan memiliki makna yang lebih tinggi derajatnya dari makna kata sebelumnya. Sebutlah kata mahadewi yang dapat diartikan sebagai dewinya para dewi, maharaja sebagai rajanya para raja atau mahapatih yang berarti jabatan patih paling tinggi diantara jabatan patih lainnya dalam sejarah kerajaan di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu kata maha seolah tergusur dari tempatnya semula atau dengan kata lain menjadi terlempar dari fungsi aslinya. Kata maha seolah dihinakan oleh penyandang kata itu sendiri. Makna maha tidak lagi dihargai sebagai suatu nilai atau derajat ketinggian sesuatu atau seseorang. Ia telah dicampakkan dalam kelamnya jurang-jurang pertikaian dan kerusuhan. Intrik-intrik kekuasaan dan kepentingan membelenggu kesadaran akan luhurnya nilai-nilai dalam kata maha tadi.

Dalam beberapa hari terakhir ini dua peristiwa utama menghiasi media massa dengan membawa tajuk pertikaian dalam kampus. Di sana ada maha yang tergeletak begitu saja diinjak-injak orang-orang yang berlarian, dilempari kerasnya batu-batu,  dahsyatnya bom-bom molotov atau sekedar sebuah bogem mentah yang bersarang di wajah para juniornya. Betapa rendahnya nilai sebuah maha jika kita melihat paradoks tersebut.

Paradoks Maha-nya Mahasiswa
Pekan ini adalah pekan puncak peringatan kejadian sembilan tahun lalu. 12 Mei yang kelam kini sedang diperingati oleh berbagai kalangan, terutama dari mahasiswa sampai aktivis hak azasi manusia, dan melalui beragam cara tentunya, dari aksi damai di jalanan menuju DPR, aksi-aksi teatrikal yang nyeleneh dan menyindir sampai diskusi-diskusi yang mengusung tema mengurai benang kusut peristiwa berdarah tersebut.

Tentu saja, jika kita mengenang kembali, peristiwa yang mengubah wajah bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari peranan para mahasiswa. Sudah menjadi fitrahnya jika kaum muda intelektual, yakni mahasiswa itu sendiri, merupakan iron of change. Sebuah generasi yang akan melanjutkan tampuk kepe-mimpinan negeri ini, melakukan perubahan positif dan membawanya ke arah yang lebih baik.

Namun paradoksitas terjadi dalam sepekan terakhir ini. Di Jakarta dan beberapa kota lainnya, para mahasiswa dari beberapa universitas negeri maupun swasta turun dengan damai di jalan-jalan ibukota. Mereka bernostalgia dengan merah keberanian dan putih ke-ikhlasan perjuangan para pendahulunya untuk me-numbangkan rezim yang dhalim dan semena-mena terhadap rakyat, walau harus merelakan nyawanya sendiri. Mereka meneriakkan protes keras atas lemahnya upaya yang dilakukan oleh pemerintah terutama dalam menyelesaikan kasus tragedi Trisakti dan Semanggi meskipun hal tersebut telah sembilan tahun lamanya berlalu.
Sementara itu di Medan, bentrok terjadi antara para pengurus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang bahkan melibatkan mahasiswa. Otomatis segala bentuk kegiatan akademis dihentikan untuk waktu yang tidak ditentukan. Tentunya mahasiswa yang sangat dirugikan. Coba bayangkan betapa banyaknya waktu, pikiran dan tenaga yang terbuang akibat tertundanya skripsi-skripsi mahasiswa tingkat akhir dan persiapan ujian akhir semester genap tahun ini. Yang sangat di-sayangkan adalah efek domino dari peristiwa tersebut. Beberapa SD, SMP dan SMA yang berada di sekitar kawasan kampus UISU itu terpaksa ditutup karena dikhawatirkan terjadi ekskalasi konflik yang lebih parah lagi.

Setali tiga uang dengan di Medan, beberapa hari kemudian di Ambon, Maluku, terjadi lagi kericuhan di dalam kampus yang menodai ke’maha’an dari mahasiswa.  Sangat tidak dihormatinya sebuah institusi pendidikan dan mekanisme di dalamnya oleh oknum mahasiswa yang sok ‘maha-aktivis demo’ terlihat jelas dalam kasus Ambon. Mahasiswa dengan ke’maha’annya dan ke’maha-aktivis demo’annya itu se-yogyanya ditempatkan dalam koridor ruang dan waktu yang tepat. Penulis tidak memiliki maksud untuk membela salah satu pihak. Mahasiswa yang diajak bukannya bersifat apatis menolak untuk ikut berdemonstrasi mengusung transparansi pemilihan Rektor baru, namun sangatlah tidak etis dan tidak berpendidikannya para oknum ma-hasiwa yang ‘sok pamer’ itu jika harus sampai memboikot kegiatan belajar-mengajar dalam ruang-ruang kuliah, memaksa keluar para mahasiswa yang sedang belajar, bahkan sampai terjadi adu kekuatan fisik diantara kedua kubu mahasiswa: yang mengajak dan diajak. Betapa rendahnya nilai ke’maha’an seorang mahasiswa jika kita cermati kasus tersebut. Padahal suatu perubahan besar dapat terjadi jika kesadaran dirilah yang bergerak dengan sendirinya bukannya dipaksakan dengan kekerasan. Tidakkah mereka belajar bagaimana me-manage sebuah opini publik dengan baik, meraciknya dengan tepat waktu, ruang dan sasaran untuk memobilisasi massa? Tentunya untuk suatu tujuan yang mulia.

Hal tersebut tidaklah berarti meng-klaim bahwa mahasiswa-mahasiswa di lain tempat di seluruh pelosok negeri ini sudah benar memaknai ke’maha’annya itu. Penyematan awalan maha dalam kata mahasiswa tentunya merupakan sebuah konstruksi sosial yang memiliki amanah dan tanggung jawab yang besar yang melekat dengan sendirinya pada individu-individu yang menyandang predikat itu. Sangat berbeda sekali dengan mereka yang hanya menyandang predikat siswa: anak-anak usia TK sampai remaja SMA. Masyarakat pun akan menilai bahwa mahasiswa itu bagaimanapun dan dilihat dari sudut manapun kedudukannya lebih tinggi dari siswa. Sebuah kedudukan yang diperoleh dari kedewasaan yang dimilikinya. Oleh karena itu predikat mahasiswa di-tentukan oleh kedewasaan berpikir sekaligus bertindak yang diusung dalam ranah-ranah intelektualisme, bukannya dengan premanisme. Dengan otak bukan dengan otot.
Sejatinya mahasiswa merupakan bara api yang selalu bersemangat dan penuh idealisme yang membara. Namun dalam proses aktualisasi dirinya itu mahasiswa dituntut pula untuk bersikap intelek. Mendahulukan berpikir sebelum ber-tindak tampak lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi suatu permasalahan. Cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) merupakan suatu keniscayaan yang mau tak mau harus didahulukan oleh mahasiswa jika suara idealismenya itu ingin didengar (baca: teraktualisasikan). Walaupun cogito ergo sum-nya Rene Descartes di atas memberi tekanan yang kuat pada ‘rasio’ namun penting untuk menelaah realitas permasalahan yang terjadi. Menjadikannya sebuah pen-cerahan (aufklaròng) bagi pemikiran-pemikiran kritis bukan aksi-aksi sarkasme.

Kecerdasan dalam berpikir dan bertindak mutlak dimiliki seorang ma-hasiswa. Di sinilah letak ke’maha’annya itu diuji. Berpikir kritis dan bertindak dengan tepat dan cepat adalah prinsip sunt complementa (saling melengkapi). Mahasiswa adalah manusia juga yang tercipta untuk selalu berpikir demi pengakuan aktualisasi dirinya. Descartes melengkapinya dengan raison d’etre, manusia ialah untuk berpikir secara kritis (je pense, donc de je suis) sampai memperoleh gagasan yang jelas dan tajam (clare et distincte) tentang segala sesuatu, yang sering juga dipandang sebagai antroposentrisme, menekankan peran sentral manusia sebagai kha-lifatullah fil ardh yang harus berpegang pada pertimbangan moralnya dalam bersikap dan bertindak. Mahasisawa sebagai manusia menjadi makhluk yang istimewa karena adanya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan sikap dan perilakunya di hadapan Khaliknya.

Jadi, kesaling-melengkapi antara berpikir kritis dan bertindak tepat dan cepat  dalam konteks ruang dan waktu yang tepat pula harus pula disertai dengan pertimbangan-pertimbangan moral sebagai landasan berpijaknya. Dengan kata lain pikiran dan tindakan haruslah berpijak pada ajaran agama masing-masing dan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan begitu tidak akan lagi kita temui wajah-wajah penuh memar-memar biru kemerahan–wajah-wajah mahasiswa yang seha-rusnya penuh senyum kedewasaan intelektual–atau bangunan-bangunan yang menjadi rusak akibat pelampiasan ego-ego yang tidak bertanggungjawab. Jika sudah begini, kita tinggal menunggu waktu untuk menemui ke’maha’an yang sebenar-benarnya. Tentu saja ke-’maha’an seorang mahasiswa sebagai generasi penerus, penegak panji-panji bangsa ini.

HANS HADIDA SYAFRUDDIN
Mahasiswa HI FISIP UI;
Penggiat Al-Hikmah Research
Center  FISIP UI

Tinggalkan komentar

Filed under Focus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s