Cambuk Perubahan

Oleh CB Gama

“Wâ mu’tashamâh!” Seorang muslimah berteriak ketika kehormatannya dilecehkan oleh orang Romawi. Ia meminta al-Mu’tashim sebagai khalifah ketika itu untuk bertindak. Sang khalifah pun dengan serta-merta mengirimkan pasukannya yang berbaris dari Irak sampai ke Syam. Demikianlah seorang pemimpin dambaan umat Islam melindungi warganya.

Kisah ini sangat masyhur terutama di kalangan yang ingin mengembalikan Islam sebagai asas pengaturan negara dan masyarakat-John L. Esposito menyebutnya Islam revivalis. Sebuah romantika sejarah yang menunjukan sikap yang amat berbeda dengan para penguasa dunia Islam saat ini. Tiap orang tentu berharap memiliki pemimpin yang secara tulus melindungi warganya dari segala gangguan. Bagi umat Islam, khalifah al-Mu’tashim (berkuasa tahun 218-227 H) sering dijadikan model.

Namun ternyata figur al-Mu’tashim tidaklah seindah kisah di atas. Mungkin seorang muslim yang mengidolakannya akan sedikit shock ketika mengetahui bahwa al-Mu’tashim lah yang juga pernah mencambuk Imam Ahmad bin Hanbal-ulama besar pendiri mazhab Hanbali, pada tahun 220 H, karena beliau menolak paksaan sang khalifah untuk mengakui al-Quran sebagai makhluk, sebagaimana doktrin Mu’tazilah yang diyakini al-Mu’tashim.

Inilah yang seringkali menjadi kritik sebagian kalangan yang anti syari’ah dan khilafah. “Apakah anda benar-benar tahu sejarah khilafah?!”
Kadang semangat untuk melakukan perubahan besar tak diimbangi pemahaman yang memadai. Semangat revitalisasi Islam sebagai sistem kehidupan acapkali tidak ditopang oleh kedalaman pemahaman tentang konsep sistem Islam itu sendiri dan penerapannya yang direkam oleh sejarah. Sebuah komentar bernada sinis pernah dilontarkan oleh Ulil Abshar-bekas koordinator Jaringan Islam Liberal: “Bagaimanapun konsep hubungan internasional Sa’id Hawa yang ia tulis dalam bukunya al-Islam tidak bisa  dibandingkan dengan konsep HI-nya Henry Kissinger?!”
Tentu sudah seharusnya kita berpikir secara serius tentang konsep yang kita tawarkan jika kita menginginkan perubahan. Kita memang mewarisi khazanah keilmuan yang kaya. Sejak dahulu selama berabad-abad para ulama telah menulis bagaimana Islam mengatur kehidupan: dari mulai ibadah, sosial, peradilan, pemerintahan, hingga peperangan. Dan itu terus berkembang merespon perkembangan zaman melalui mekanisme ijtihad dan tajdid. Namun perkembangan intelektual ini juga pernah beberapa kali mengalami kemandegan. Dan kemandegan intelektual inilah yang menjadi salah satu penyebab utama ditinggalkannya Islam sebagai pengatur kehidupan oleh umat Islam sendiri.

Apakah kita sudah memiliki konsep yang mampu menjawab tantangan zaman ini? Tentu jawabannya: ya! Warisan masa lalu dan pengembangannya oleh para pemikir kontemporer sudah kita miliki. Tapi semua itu masih harus dikembangkan. Prof. Mohammed Aslam Hanif dari International Islamic University of Malaysia (IIUM)-salah seorang tokoh dalam Islamisasi ilmu ekonomi pernah mengatakan bahwa bidang yang ia geluti masih banyak membutuhkan pengembangan.
Jadi tantangannya adalah: kita harus memahami khazanah yang diwariskan oleh masa lalu, pengembangannya saat ini, dan terus mengembangkannya untuk masa depan. Ini akan semakin mencambuk semangat dan langkah kita dalam menapaki perubahan ke arah yang benar.

Tinggalkan komentar

Filed under KProject

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s