Butuh Pangan atau Energi?

Oleh Suharjo

Kita sering mendengar isu tentang biodisel. Sebuah bahan bakar dari hasil pertanian (bahan bakar nabati). Isu ini semakin gencar terdengar seiring dengan naiknya harga minyak akibat berkurangnya cadangan minyak dunia. Tak heran, Indonesia pun ikut meramaikannya dengan berbagai program yang secara bertahap berupaya meningkatkan produksi biodiesel dengan bahan baku CPO, tebu dan minyak jarak.

Di satu sisi, sektor pertanian kini kian mendapatkan perhatian dan pemerintah menempatkannya menjadi sektor strategis. Situasi ini secara umum akan berdampak positif pada kinerja sektor pertanian. Dan produk-produk pertanian pun kini melayani pasar untuk makanan, sandang, pakan dan energi (biodisel). Tidak heran nanti kita akan membeli CPO serta olahan tebu di SPBU.

Untuk jangka panjang, proses ini akan berdampak positif karena dapat memberikan tekanan kenaikan harga serta stabilitas harga produk pertanian. Tapi untuk jangka pendek, ini akan menjadi boomerang bagi 30 juta penduduk miskin Indonesia yang sangat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Kita semua pasti tahu dan sadar bahwa masih banyak bahan pangan yang kita impor seperti gula, kedelai, jagung bahkan bahan pangan utama seperti beras pun kita masih mengimpor dari negara lain. Padahal, Indonesia terkenal dengan negara agraris.

Pemerintah harus cerdas dan teliti dalam megeluarkam kebijakannya. Akan kemana arah pertanian Indonesia kedepan? Ke pertanian pangan yang merupakan kebutuhan pokok seluruh warga negara atau untuk penghasil biodiesel yang hanya dimanfaatkan untuk kalangan terbatas saja?.

Pertanyaannya, benarkah saat ini Indonesia sangat membutuhkan biodiesel? Sampai-sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi lahan untuk menanam jarak. Hal ini terkait juga dengan ketahanan pangan. Meskipun banyak yang mengatakan jarak dapat tumbuh di lahan kritis, tapi apakah akan optimum produksinya tanpa diberi nutrisi tambahan (pupuk)? Tanaman ini pasti akan membutuhkan pupuk. Kita pasti masih ingat berita kelangkaan dan mahalnya pupuk di kalangan petani. Hal ini membuat produksi padi menurun dan mau tidak mau kita harus impor beras, ditambah lagi sekarang dengan pengkonversian lahan menjadi gedung dan menjadi kebun jarak akan semakin membuat lahan pertanian pangan berkurang dan produksi pangan-pun menyusut. Ini baru dari sisi lahan. Sawit, kedelai, jagung, singkong dan tebu pun terancam berubah proses menjadi biodiesel. Padahal yang sangat dibutuhkan masayarakat sekarang adalah pangan. Ingatan kita pasti masih segar tentang berita gizi buruk dan kasus kelaparan yang terjadi di beberapa daerah. Ini menunjukkan bahwa memang Indonesia butuh ketahanan pangan.
Karena kenyataannya, untuk saat ini produk-produk biodiesel tidak bisa dijual bebas di pasaran. Setiap liter pembelian biodiesel harus diketahui dan mendapatkan ijin khusus. Makanya, banyak sudah pabrik yang memproduksi biodiesel tapi kita susah untuk menemukan produk biodiesel di pasaran.

Yang menjadi kekhawatiran adalah orang yang membutuhkan energi seperti biodiesel adalah mereka yang punya mobil dan mesin-mesin produksi alias yang megang duit yang kedudukannya sangat kuat dari sisi ekonomi, sosial dan politik dan mereka pasti yang akan menang. Akhirnya rakyat kecil termarjinalkan sehingga akan semakin kelaparan karena akses terhadap pangan sangat sulit karena harganya mahal.

Dampak lainnya juga bisa terjadi pada kerusakan alam. Kalau tidak dibatasi dalam hal pengkonversian lahan yang bisa saja dapat menggundulkan hutan, maka tidak heran akan timbulnya banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan.

Kalau kita cermati, strategi pengembangan biodiesel merupakan strategi global yang sudah dimulai sejak era 1970-an. Pada saat itu harga BBM meningkat tajam sehingga negara importir seperti AS menganggap telah terjadinya krisis BBM sehingga harus dicari solusinya. AS lah yang kemudian mempelopori pengembangan biodiesel untuk merespon krisis tersebut.

Jelas ada kepentingan asing di balik semua ini. Kita harus teliti dalam menanggapi semua ini, jangan sampai terjerumus dalam perangkap kapitalisasi global yang diusung AS. Yang hanya menyenangkan bagi yang berduit dan akan membunuh kaum proletar. Pemerintah juga harus hati-hati dalam membuat kebijakan jangan sampai menyengsarakan rakyat kecil demi kepentingan kaum berduit. Perlu perencanaan secara sistematis.

SUHARJO
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta)
Institut Pertanian Bogor (IPB)

1 Komentar

Filed under Perspective

One response to “Butuh Pangan atau Energi?

  1. yati

    pny jurnal internasional ttg hasil pertanian untuk pangan dan energi spt yg dibahas di atas ga ? saya lgi bth ni tuk tugas…dah coba cari tp blm dpt. kalo anda bisa m’bantu, saya sgt berterima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s