Asyiknya Rame-Rame!

Oleh Ardhi Ridwansyah

Pernah jadi seksi dana dan usaha? Bagi yang pernah tentu tidak asing dengan aktivitas berburu sponsor alias seksi “danus” itu.  Angkat telepon, lalu pergi ke sana kemari berbekal proposal plus referensi. Sebagian gol, dan barangkali lebih banyak yang mental. “Tak mudah cari perusahaan yang mau menyisihkan uangnya untuk kegiatan mahasiswa”, demikian mungkin pikiran Anda.

Maka, Anda pasti terkejut jika tahu bahwa ada perusahaan yang mau jor-joran untuk menjadi sponsor gardu siskamling dan pangkalan ojek. Itulah yang dulu pernah dilakukan oleh Sampoerna untuk mempromosikan Sampoerna Hijau-nya. Ingat iklan Geng Hijau yang pernah tayang di televisi? Ya, inilah salah satu proyek “penghijauan” yang diarahkan Sampoerna ke komunitas-komunitas pinggiran.

Ini cerita unik lainnya. Di suatu malam Ahad (tanggalnya lupa) saya lewat di jalan Margonda Raya dari arah Jakarta. Dan di sepanjang jalan utama Depok yang cuma beberapa kilometer itu saya temui beragam komunitas pengendara sepeda motor. Masing-masing membuat kerumunan. Ada kebanggaan dan “kehangatan” komunal di sana. Pengikatnya? Tak lain kecintaan pada obyek  yang sama, yang tersimbolisasi pada pahatan kata “Honda Tiger”, “Vespa”, “Harley davidson” dan sejenisnya.

Sudah cukup lama para pemasar menyadari kekuatan komunitas sebagai saluran yang sangat efektif untuk menjangkau pelanggan. Community is the best channel, demikian salah satu prinsip di dalam buku Marketing in Venus. Dan yang lebih “ampuh” lagi, komunitas mampu melahirkan advocator customer.  Mereka adalah pelanggan yang tidak hanya akan menjadi “papan iklan berjalan”, tetapi juga akan menjadi pembela ketika ada yang menjelek-jelekkan merek perusahaan. Mau contoh? Komunitas motor gede! Juga komunitas multi-level-marketing!
Dengan potensi yang dimilikinya, tak heran banyak komunitas yang sengaja dilahirkan. Telkomsel misalnya, untuk tiap merk yang dimilikinya ada komunitasnya sendiri. Ada SimpatiZone (Kartu Simpati), Club Hallo (Kartu pra bayar Hallo) serta Genk Asik (Kartu AS).  Terlalu banyak contoh lainnya.

Prinsip di atas ternyata tidak hanya berlaku di dunia bisnis. Dengan beragam idealisme, komunitas-komunitas kampus mulai tumbuh. Diawali minat yang sama, obrolan ringan di kantin, akhirnya berlanjut hingga kumpul-kumpul rutin.

Komunitas memang semestinya tidak sekedar menjadi ajang kongkow tanpa tujuan. Ibarat ibu-ibu arisan, yang pintar akan memanfaatkannya untuk jualan!
Terlalu mahal potensi yang disia-siakan jika komunitas yang kita bangun hanya berujung pada sekedar having fun. Juallah ide! Berbagilah gagasan dan keprihatinan! Rangkul rekan Anda yang selama ini merasa letih berjuang sendirian!
Saatnya semua merasakan asyiknya (berjuang) rame-rame !

Tinggalkan komentar

Filed under M-Corner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s