Tukul Pun Bisa

“Kick Andy” di Metro TV dibandingkan dengan “Empat Mata” di Trans 7? “Garing”, begitu mungkin komentar kita. Dan ternyata, tak hanya kita yang berpendapat semacam ini.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan hadir dalam sebuah forum pemasaran di Jakarta. Di situlah kebetulan Andy F.Noya, presenter “Kick Andy”yang juga pemimpin redaksi Media Indonesia ini hadir sekedar membuka acara. Dan tanpa diminta keluarlah pengakuannya mengenai acaranya yang banyak menghadirkan tokoh-tokoh penting nasional itu. Diakuinya, banyak rekan-rekannya yang memberikan kritikan. Dan salah satunya, ya itu tadi, masalah “kegaringan”.


Jika mau jujur, siapapun saya kira akan sepakat bahwa dari segi kualitas isi, “Kick Andy” lebih berbobot dibandingkan “Empat Mata”.  Tapi dari segi peminat? Hmm… bahkan Presiden pun tergelitik untuk mengundang seorang Tukul Arwana ke Istana Negara.

Setelah membaca ilustrasi di atas, akankah kita lalu merasa pesimis dengan gagasan kebangkitan intelektual yang digagas koran kita pada edisi ini? “Kebangkitan” dan “intelektual”, dua kata serba serius yang digabungkan jadi satu, hufff… Akankah proyek semacam ini akhirnya kandas di tengah budaya “katro wong ndeso” yang sedang naik daun?

Ibarat jualan, proyek kebangkitan intelektual hakekatnya juga butuh taktik pemasaran. Pada faktanya,  memang ini adalah proyek jualan, dengan ide yang menjadi barang dagangan. Taktik pemasaran, menurut Hermawan Kartajaya, intinya sebenarnya hanya satu: diferensiasi. Sederhananya: tampil beda.  Bagaimana untuk bisa tampil beda? Ada tiga formula dasar yang perlu diperhatikan.

Pertama adalah content: tampil beda dari segi isi. Makanya dalam mengusung gagasan kebangkitan intelektual ini, kita harus mencoba untuk keluar dari arus utama yang sekedar melontarkan kritik tambal sulam. Juga dari arus pinggiran yang kekiri-kirian. Kita ciptakan arus kita sendiri! Sebuah “madzhab” baru pergerakan!

Kedua adalah context: tampil beda dari segi “kemasan”. Salah satu realisasi sederhananya adalah koran kampus yang saat ini tengah Saudara pegang. Dulu, ketika teman-teman mencoba menggagas media khas ala mahasiswa, jatuhnya pilihan pada format koran didasari pada suatu alasan sederhana: yang seperti ini belum ada (setidaknya yang sejauh kami ketahui). Buletin, majalah, mini magazine, serta paper sudah bertebaran hingga sudut-sudut jurusan. Karenanya, sebagai perantara pesan kebangkitan intelektual ini butuh format media yang bisa tampil unik di tengah kerumunan produk jurnalisme kampus yang telah eksis.

Yang ketiga adalah infrastructure, mencakup teknologi dan sumber daya manusia yang akan menciptakan “keunikan” tadi. Yang kemudian akan menjadi pertanyaan, manusia seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi penggerak proses kebangkitan intelektual ini?

Saya pribadi berpendapat bahwa tak harus menjadi jenius untuk bisa ambil bagian dalam proyek kebangkitan ini. Kita semua insya Allah bisa, termasuk Tukul juga.
Modal awal yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bangkit. Dan jika kemauan itu sudah ada di dalam diri Anda, selanjutnya Anda tahu ke mana harus menghubungi kami.

Tinggalkan komentar

Filed under M-Corner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s