Simposium Nasional Pendidikan Nasional

Kota bandung yang dingin dan indah menyambut kedatangan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Keletihan selama perjalanan segera sirna berjumpa keramahan warga Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Ledeng, Bandung.

Tanggal 28 April sampai 2 Mei 2007 lalu, Kalam UPI dan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BK LDK) menggelar hajatan Simposium Nasional Pendidikan dengan tema “Selamatkan Pendidikan Tinggi Indonesia Dari Kapitalisasi dan Liberalisasi”.

Gubernur Jawa Barat yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Tinggi membuka secara resmi acara yang  berlangsung empat hari. Dalam sambutannya, Pembantu Rektor III UPI menyambut baik kedatangan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai pelosok negeri untuk membicarakan permasalahan besar yang sedang dihadapi pendidikan nasional.
Pada hari pertama acara diadakan perkenalan antar peserta dilanjutkan dengan talk show seputar Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Tampak para perserta yang awalnya belum saling kenal tersebut sangat antusias dalam talkshow yang berlangsung menarik tersebut.

Salah seorang pembicara, Farid Wajdi, yang mantan aktifis dakwah kampus tahun 1990-an mengatakan bahwa terbentuknya LDK pada awalnya adalah sebuah respon politik dari mahasiswa terkait situasi yang terjadi dalam kancah nasional.
Masih menurut Farid, LDK sebagai sebuah respon politik bukan sekedar sebuah respon belaka, namun LDK juga menawarkan pemikiran Islam ideologis sebagai jawaban atas kebimbangan sistem dan pemikiran yang terjadi negeri ini.
Selain Farid Wajdi, hadir sebagai pembicara Darminto (Bekornas BKLDK). Dalam talkshow yang berlangsung menarik tersebut, mengemuka sebuah wacana bahwa kemunduran yang terjadi ditengah-tengah kaum muslimin saat ini, problematika utamanya adalah tidak diterapkannya syariat Islam secara utuh serta tidak adanya institusi kenegaraan yang melaksanakannya, yaitu Khilafah Islamiyah.

Sebagai perwakilan dari BKLDK, Darminto, mengatakan bahwa dakwah kampus harus terorganisir dengan rapi, baik secara internal maupun eksternal. Sehingga dibutuhkan jaringan dakwah yang mampu mewadahi LDK-LDK di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Masih menurut Darminto, BKLDK merupakan sebuah badan yang muncul dan berkembang sebagai wadah koordinasi antar LDK-LDK perguruan tinggi sehingga mampu melaksanakan agenda-agenda dakwah nasional serta saling membantu dalam pelaksanaan dakwah kampus di masing-masing perguruan tinggi.

Dalam wawancara dengan The Campus, beberapa peserta Simposium Nasional menyatakan kapitalisasi dan liberalisasi pendidikan tinggi saat ini telah menjadi keresahan di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Menurut peserta dari Universitas Indonesia, Hendra, menuturkan bahwa status BHMN yang telah disandang UI, membuat UI secara aktif mencari sumber dana baru untuk menutup subsidi yang dicabut pemerintah. Salah satu yang dilakukan yaitu menaikkan SPP dan menarik biaya pangkal (admission fee) dari mahasiswa.

Seorang peserta dari kampus Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, mengaku khawatir atas kebijakan BHMN dan BHP yang mendorong terjadinya kapitalisasi pendidikan tinggi hingga menyebabkan semakin sulitnya pendidikan dijangkau oleh masyarakat terutama lapisan bawah.

Selain acara seminar dan talkshow, peserta Simposium Nasional Pendidikan juga mendapatkan Training Dakwah Kampus dan muhibah ke Pondok Pesantren Daarut Tauhid pimpinan KH Abdullah Gymnatsiar. Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa tersebut ditutup dengan Aksi bersama menentang Kapitalisasi Pendidikan yang dilaksanakan di depan Gedung Sate, Bandung.

Setelah meneriakkan tuntutannya, ratusan mahasiswa dari berbagai daerah   akhirnya meninggalkan kesejukan Bumi Siliwangi.

6 Komentar

Filed under Community

6 responses to “Simposium Nasional Pendidikan Nasional

  1. Aslm…
    Ya, sampai saat ini, Saya juga merupakan salah satu dari barisan yang menolak adanya kapitalisasi pendidikan. Apalagi, hal itu akan terjadi di Indonesia. Dengan tegas, Saya menolak!

    Akan tetapi, melihat ‘tawaran’ solusi yang disampaikan oleh kawan2, menurut Saya Pribadi, terlalu global jika setiap masalah langsung ‘dibenturkan’ dengan ISLAM. Jika kita ingin bijak dalam menghadapi lawan bicara kita, semestinya, hal yang global pantasnya dihadapkan dengan hal yang global, begitu juga sebaliknya, hal yang spesifik mestinya dihadapkan dengan spesifik.

    Karena, jika kita mampu merespon dengan bijak, bukankah orang lain akan lebih simpati tanpa harus berapriori? Apalagi, hal itu bernuansa Ideologis. Islam yang Saya kenal adalah Rahmat untuk semesta Alam. Bukan pemaksaan kehendak!
    Mari, bersama-sama kita kembangkan cara yang lebih arif dan elegan dalam menjawab dan mentuntaskan permasalahan bangsa ini. Karena kita bukan hidup di hutan belantara. Kita adalah Indonesia yang penduduknya begitu beragam dan mempunyai cita rasa yang berbeda. Wawlohu A’lam bi al-Showab!

  2. el-yasin

    saya SEPAKAT bila yang ditempuh adalah PENEGAKAN SYARIAT dengan daulah KHILAFAH

    apalagi temen2 mahasiswa yang konsen dengan perjuangan menuju tegaknya syariat DI BUMI ALLAH ini.
    sudah sepantasnyalah ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. dimana ALAM INI merupakan milik sangmahapencipta,dan pengelolaannya tidak berdasarkan apa yang sang pencipta turunkan kepada Rosulnya(utusannya).
    otomatis SOLUSInya harus kembali kepada ATURAN sang maha pencipta.
    alasan bahwa indonesia beragam, diterima(karena faktanya begitu)
    alasan bahwa keragaman itu itu tidak bisa disolusikan dengan ISLAM, ditolak(karena tidak memuskan akal dan tidak menentramkan jiwa serta tidak sesuai fitrah).
    Kita berbeda, namun AQIDAH yang mengikat kita….. KATAKAN BAHWA KITA MUSLIM

    -see u later-

  3. dhimas

    assalamualaikum
    iya betul. saya sangat setuju dengan menegakan syariat di Indonesia. apalagi dengan melihat semakin banyaknya kemaksiatan yang terjadi.
    sepakat juga dengan mas Hisnu Sobar, untuk menegakkan syariat di tempat yang beragam penduduknya, tak bisa tiba2 saja tegak full 100% syariat Islam. hal ini bagaikan menaruh katak di baskom yg berisi air mendidih.
    tapi alangkah baiknya jika kita melakukan langkah2 yg strategis. misal “pnguasaan” kursi politik, lalu dilanjutkan penegakkan syariat yg baik2 dulu spt zakat dijadikan undang2, baru penegakkan syariat yg lain secara perlahan2. hal ini spt menaruh katak di dalam baskom berisi air dingin, katak pun akan senang. lalu tanpa disadari sang katak, baskom ini dipanaskan perlahan2 shingga katak pun takkan meninggalkan baskom sampai ia menyadari bahwa dirinya telah dimasak.

    wallahualam

    afwan kalo perumpamaannya agak jelek. maksudnya sih kalau mau melakukan sesuatu yg besar harus dimulai dari langkah2 yg kecil dulu.

  4. AlhamduliLlah.. kemarin Korwil BKLDK Yogyakarta mengadakan Seminar NAsional Pendidikan “Beranjak Menuju Sistem Pendidikan Ideal”, yang dihadiri sekitar 100-an peserta di Auditorium Musik Institut Seni Indonesia. Dengan pembicara 1. Nopriadi (Dosen FT UGM), 2. Eko Prasetyo (PUSSHAM UII, Penulis Buku “Orang Miskin Dilarang sekolah”), 3. Ir. Dwi Condro Triono, MSI (KAndidat Doktor UKM). Ketiga pembicara sepakat bulat Sistem Pendidikan Islam sebagai solusi dalam kerangka Neagra yang beraqidah ISlam..

  5. Segala Puji Bagi Allah yang telah men’Skenaryo’kan kita dalam sebuah kenikmatan Ber-Islam, dan ketika ‘Skenaryo’ ini menghendaki kita untuk Menyatukan Gerak dalam Langkah, Menguatkan Fikir dalam Strategi, Memunculkan Harap dalam Hampa, Maka..Santunlah dalam Bergerak, dan Kritislah dalam Berpijak..!

    Sesungguhnya Cahaya Itu Indah
    ketika Gelap itu ada…!

    Peristiwa ini berawal dari Diskusi kami dengan ARIMATEA di Aula gedung A Fakultas Keguruan dan Ilmu Pedidikan Universitas Mataram (UNRAM), tanggal 12 Juli 2007 Pukul 09.00 Wita.

    Untuk Penyebarluasan Slide ini, ana sudah mendapatkan Izin dari si-Pemateri, Insya Allah tidak ada keraguan didalamnya. Semoga Hal kecil ini menjadi sebuah penyadaran bagi kita semua, sehingga kita tidak hanya terbuai oleh angan-angan yang kemudian membuat kita terjatuh dan merasa sakit kemudian.

    Silahkan download di skenaryo.multiply.com
    (Blog-Waspadai Musuh dalam Selimut)
    Barakallahu lakum Jami’a…!
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  6. aisyah

    Assalamu’alaikum,,,sepakat dengan semua, jangan bingung, lihat saja pada awal dikenalkannya ISLAM.secara bertahap dan tidak “menakutkan”. Islam adalah agama fitrah, maka dalam menyampaikannya harus sesuai dengan sifat2 fitrahnya manusia, (gimana?).Islam tidak memberatkan dan juga tidak meringankan, jangan sampai karna salah cara “menyampaikan”nya maka islam dijauhi (bukan karna nilai islamnya tapi karna caranya).bersikap bijak dan cerdas, ambil langkah konkrit walau kecil tapi berkontribusi,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s