Mozarabic

Pernahkah anda membayangkan seorang Raja Kristen di Eropa bergaya Arab? Dialah Roger II dari Sisilia yang berkuasa pada sekitar abad ke 11 M. Ia mengenakan pakaian Arab sebagai simbol kebesaran. Wanita Sisilia juga meniru pakaian wanita Arab. Gereja dihiasi dengan kaligrafi Arab. Istana dipenuhi dengan para ahli Arab (baca: Muslim). Tidak jauh berbeda, orang-orang Kristen di Spanyol ketika itu tenggelam ke dalam apa yang disebut Mozarabic Culture: budaya orang asli Spanyol yang “terarabkan” (arabized). Inilah kondisi ketika Islam berjaya.

Islam memang pernah berada di puncak peradaban dunia. Superioritas politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan pernah dipegang oleh umat Islam. Sampai-sampai siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah ia harus pergi ke Andalusia yang merupakan pusat peradaban Islam. Banyaknya problem dalam literatur Latin yang belum bisa diselesaikan di Eropa katika itu, baru bisa diselesaikan oleh mereka yang kembali dari Andalusia (Oliver Leaman, 1985).
Tapi itu adalah masa lalu. Sekarang kondisinya berbalik. Para penguasa Muslim yang bergaya Barat. Para wanita muslimah yang meniru pakaian wanita Barat. Untung saja ayat-ayat al-Quran di dinding-dinding mesjid tak diubah ke huruf latin. Walaupun di bidang politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan umat Islam masih sangat tertinggal oleh Barat.
Kondisi ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi kaum Muslimin. Siapapun tentu ingin ada di posisi superior. Dan tampaknya dari dulu sudah sangat banyak orang yang berbicara tentang bagaimana agar umat ini bisa kembali meraih superioritasnya. Dari mulai orang yang masih menjadikan Islam sebagai kunci solusi, sampai ke orang yang meyakini bahwa dengan mengikuti Barat-lah kita bisa maju. Kemunduran yang sampai saat ini masih dialami umat Islam menjadikan pembicaraan ini masih terasa penting.
Mengikuti an-Nabhani, dua pilar mendasar berkaitan dengan kemajuan peradaban adalah: (1) ilmu (mafâhim) dan negara. Ilmu sebagai inti dari peradaban itu sendiri. Negara sebagai institusi kunci dalam penerapan berbagai konsep (mafâhim) dalam peradaban. Ilmu direpresentasikan oleh ulama-ilmuwan. Dan, (2) negara yang direpresentasikan oleh penguasa (umarâ).
Negara ideal bagi umat Islam adalah khilafah. Di masa lalu, ini sebenarnya sudah jelas. Ulama besar seperti an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahîh Muslim mengungkapkan hasil penelitiannya tentang kesepakatan (ittifâq) para ulama bahwa umat Islam hanya boleh memiliki satu pemimpin negara. Dan sampai saat ini seruan untuk mengembalikan institusi khilafah ini terus menyebar di berbagai penjuru dunia. Menurut Mapping for the Global Future ada kemungkinan institusi ini akan kembali berdiri tahun 2020.
Ulama-ilmuwan ideal? Banyak kriteria yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi di sini ada satu hal penting yang perlu ditekankan: ulama-ilmuwan sebagai arsitek konseptual peradaban Islam.
Ulama dan ilmuwan memiliki tanggungjawab yang besar dalam menjelaskan berbagai konsep dalam peradaban Islam; dari mulai ‘aqidah hingga syari’ah, termasuk berbagai bidang dalam ilmu pegetahuan yang seharusnya dilepaskan dari framework sekular untuk kemudian diletakan dalam framework Islam.
Di sini peran mahasiswa sangat jelas. Mereka adalah pemimpin, ulama, dan ilmuwan masa depan. Tentu, tumpuan harapan kebangkitan peradaban Islam di masa depan ada di pundak mereka. Tidakkah kita tergugah?

Tinggalkan komentar

Filed under KProject

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s