Mahasiswa Mesti Kembangkan Mazhab Baru

Kajian sosial politik Islam perlu terus dikembangkan. Salah satu caranya yaitu dengan mengem-bangkan semacam mazhab baru di luar manstream pemikiran sosial politik sekuler yang dominan saat ini. Hal ini bisa dimulai lewat kajian-kajian informal di kalangan mahasiswa.

Demikian dinyatakan Shofwan Al-Banna Choiruzzad dalam Kuliah Informal Sosial Politik Islam (KISPI) yang diselengggarakan Forum Studi Islam (FSI) FISIP Universitas Indonesia, Kamis (26/4).
Menurut mahasiswa berprestasi utama nasional 2006 dan anggota Majelis Wali Amanat UI dari unsur mahasiswa ini, sudah saatnya aktivis Islam di kampus berpindah dari sekadar meneriakkan slogan, menjadi pengusung agenda yang jelas. “Menggali pemikiran Islam juga bukan berarti menjebak diri dalam utopia dan romantisme masa lalu.”
Shofwan mengingatkan agar wacana politik Islam di kalangan mahasiswa yang banyak menampilkan cita-cita khilafah agar tak sekedar mengedepankan kebanggaan akan masa lalu. Namun yang mendesak dilakukan adalah memperjelas sistem tersebut agar sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. “Penting untuk mengelaborasi implementasi cita-cita khilafah itu dalam tataran praktis”, ungkap mahasiswa yang rajin menulis di surat kabar nasional ini.

Hentikan Sekularisasi
Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Munarman, menyatakan sekularisme pada dasarnya hanya mengasingkan agama. “Mahasiswa jangan mau ditipu pemikiran yang menyesatkan”, tegasnya.
Sementara itu, Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, tak menampik bahwa sains modern di satu sisi menghasilkan kemajuan material yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi menurutnya, di sisi lain juga menimbulkan proses dehumanisasi dan gagal menyelesaikan problema manusia. “Agama, ilmu dan seni terpisah, sehingga satu sama lain tidak saling menopang”, katanya.
Ia mencontohkan negara Jepang yang maju, namun di tengah kemakmurannya tingkat bunuh diri tinggi dan muncul sekte agama yang sesat. Ilmu tidak memiliki kendali moral, baik dalam kegunaan maupun ruang lingkup pengkajian. Padahal menurutnya, semestinya ilmu didasarkan pada agama (Islam) dan digunakan berdasarkan syariah untuk kebaikan manusia dan alam semesta.
Karena itu, menurut Ismail, sekularisasi sains harus dihentikan. Dalam Islam, ilmu sosial politik adalah bagian dari tsaqofah. Zahidayat

Versi PDF Nomor 2 / 1-15 Mei 2007 Download (1,5mb)

Tinggalkan komentar

Filed under Headline

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s