IntelektualSebagai Landasan Kebangkitan

Intelektual adalah orang yang menggunakan akalnya bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai-bagai pemikiran. Menurut Sahibul Hikayat, yang dimaksud dengan kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya.

Pentingnya keberadaan kaum intelektual di tengah-tengah masyarakat adalah sebuah pernyataan yang tidak dapat di tolak. Telah digariskan oleh sejarah, bahwa setiap proses kebangkitan peradaban pasti diawali dengan kebangkitan intelektual. Kita dapat melihat fenomena tersebut dalam tiga sejarah kebangkitan besar, yaitu kebangkitan Islam, Kebangkitan Eropa, dan Kebangkitan Sosialis-Komunis.
Kebangkitan Islam sebagai sebuah kebangkitan intelektual adalah hal mutlak. Muhammad SAW sebagai aktor intelektual dalam kebangkitan Islam telah mampu membawa masyarakat arab dari masa jahiliyah menuju masa pencerahan. Pemikiran-pemikiran Islam sebagai sebuah wahyu selalu diberikan Muhammad SAW kepada pengikut-pengikut awalnya supaya disebarkan kepada masyarakat lainnya. Sehingga muncullah sebuah kelompok intelektual yaitu para sahabat Muhammad SAW ditengah-tengah komunitas quraisy yang masih bodoh waktu itu. Dengan kesabaran pengajaran dari Muhammad SAW dan para sahabatnya, akhirnya dunia arab mampu menjadi sebuah peradaban maju yang kecemerlangan peradabannya mampu pula menerangi seluruh pelosok dunia.

Kita tentu mengenal istilah Khilafah Islamiyah yang pernah membentang dari Spanyol hingga Indonesia, yang mensejahterakan manusia lebih dari sepertiga dunia. Peradaban Islam yang luar biasa tersebut ternyata merupakan akumulatif sejarah dari kebangkitan Islam semenjak zaman Muhammad SAW hingga zaman kekhalifahan Islam terakhir, yaitu Khilafah Utsmaniyah. Dan Intelektual adalah pemeran penting dalam kebangkitan Islam yang luar biasa tersebut.

Kebangkitan besar kedua yang harus kita perhatikan adalah kebangkitan dunia eropa. Eropa dilanda zaman kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Maksud “Zaman kegelapan” adalah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemandegan ilmu pengetahuan. Menurut Ensikopedia Amerika, tempo zaman ini selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Zaman kegelapan terjadi disebabkan tindakan dan cengkaman kuat pihak gereja kristen yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang berhak untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri dari ahli-ahli sains dan pemikiran merasa mereka ditekan dan diawasi dengan ketat. Pemikiran mereka ditolak.

Siapapun yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan disiksa bahkan dibunuh. Dalam politik, gereja sering bersaing dengan penguasa kerajaan. Biasanya apa yang berlaku di Eropa pada abad pertengahan itu adalah kekuasaan gereja lebih kuat dan kadang terjadi kerjasama, Thomas Aquinas (1274 M) seorang ahli filsafat zaman tersebut mengeluarkan teori “negara wajib tunduk kepada kehendak gereja”. Diceritakan oleh sejarah, golongan cendekiawan sentiasa memberontak terhadap pengawasan gereja tersebut.

Pada abad ke 12, pergerakan intelektual telah mulai berjalan. Kaum intelektual Eropa mulai bersikap lebih berminat untuk tahu dan lebih bersemangat terhadap kebudayaan bangsa Timur yang telah lama maju. Dan Timur yang dimaksudkan itu adalah dunia Islam (Timur Tengah). Beberapa kota besar di Timur Tengah telah menjadi kata ilmu pengetahuan seperti Iskandariah, Harran, Antiok dan Baghdad. Diskusi intelektual yang melibatkan topik besar seperti filsafat, ilmu pengobatan, astronomi, akhlak, politik, sains dan lainnya dibahas secara terbuka dan ilmiah. Memang saat dunia Islam sudah menikmati kemajuan dan peradaban yang tinggi, Eropa masih diselimuti kegelapan dan kemunduran.

Kawasan Islam yang dekat dengan Eropa adalah Spanyol. Di Spanyol perkembangan intelektual dan keilmuan juga berlaku dengan pesat. Philip K Hitti dalam bukunya The Arabs: A Short History menyampaikan : “Kaum Muslimin Spanyol mengarang bab-bab yang gemilang dalam sejarah intelektual pada Zaman Pertengahan Eropa.
Di antara pertengahan abad ke-8 H dan permulaan abad ke-13 M, orang Islam merupakan pemimpin utama dalam budaya dan peradaban di seluruh dunia. Kedua bidang ini merupakan perantara untuk memulihkan, menambah dan menyebarnya sains dan pemikiran yang memungkinkan pembaharuan di Eropa Barat.” (174-175 H).
Sehingga, setelah mulai terbukanya pemikiran-pemikiran kaum intelektual Eropa, maka terjadilah perubahan besar dalam peradaban Eropa. Zaman kegelapan tersebut telah beralih menjadi Zaman kebangkitan bagi bangsa Eropa. Peristiwa-peristiwa besar mulai bermunculan, mulai dari revolusi perancis hingga revolusi Industri di Inggris. Kebangkitan intelektual telah menjadi pendorong bangkitnya bangsa Eropa dari keterbelakangan. Walaupun akhirnya salah satu sisi kontroversial tetap harus mereka ketengahkan yaitu pemisahan antara agama dengan kehidupan (sekulerisme).
Kebangkitan ketiga yang dapat kita perhatikan sebagai wujud dari peran intelektual dalam mendasari sebuah perubahan besar adalah kebangkitan sosialis komunis. Kita tentu tidak dapat melepaskan kebangkitan tersebut dari peran para pemikir-pemikir awal kaum sosialis, seperti Karl Marx, Engel, Fuerbach, dan Lenin.

Pemikiran-pemikiran sosialis yang terlahir dari tokoh-tokoh tersebutlah yang akhirnya diusung oleh kaum sosialis terutama di Rusia dan Eropa Timur untuk bergerak dan mengusung perjuangan untuk lepas dari peradaban kapitalisme yang menindas kaum proletar.

Sehingga terbukti sudah bahwa kebangkitan tidak akan pernah dapat dilepaskan dari peranan Intelektualitas dan Kaum Intelektual. Kebangkitan tanpa intelektualitas tidak akan berarti apa-apa dan bahkan tidak akan pernah terjadi. Maka beruntunglah mahasiswa berada dalam sebuah fase intelektualitas yang menuju puncak dalam hidup. Ini berarti mahasiswa berada dalam sebuah potensi yang terbesar untuk melakukan kebangkitan atas nama intelektualitas.

Namun sayangnya, kebangkitan yang diusung mahasiswa sekarang banyak yang dikebiri. Peran mahasiswa saat ini hanya dijadikan sebagai alat politik atau sekedar eksekutor jalanan. Kebangkitan yang berlandaskan intelektual harus kembali diusung mahasiswa jika menginginkan apa yang diperjuangkan berhasil dan mampu membawa kebangkitan yang sesungguhnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Focus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s