Ilmuwan di “Menara Air”

Sering kali terdengar ungkapan, ilmuwan sosial hanya sanggup berceloteh mengenai teori yang seringkali jauh panggang dari api dalam upaya memecahkan persoalan riil. Analisis yang dikeluarkan pengamat dan ilmuwan sosial di ruang-ruang publik nyaris tak berbeda dengan obrolan masyarakat kebanyakan di pinggir jalan, tempat-tempat nongkrong, atau warteg, yang notabene tidak terlalu tinggi tingkat pendidikannya.
Jika demikian, apa bedanya mereka yang mengunyah pendidikan tinggi hingga tingkat doktoral dengan masyarakat kebanyakan itu?

Ungkapan tadi memang common sense. Namun, menghakimi ungkapan common sense yang dicetuskan masyarakat kebanyakan itu sebagai ungkapan tidak ilmiah tentu bukan langkah bijak. Ada yang perlu dikaji ulang di sini sebagai bahan instrospeksi diri.

Teori dalam ilmu sosial dibangun atas dasar penelitian yang menyentuh dan menggali kehidupan riil masyarakat itu sendiri, apa pun pendekatan dan paradigma yang dipergunakan. Dalam pendekatan kuantitatif, hipotesis yang merupakan jawaban sementara atas permasalahan riil yang berhasil dirumuskan dan dianggap sebagai embrio teori harus diuji melalui serangkaian analisis dengan instrumen yang teruji pula keandalannya.

Dalam pendekatan kualitatif pun, beranjak pada paradigma constructivism misalnya, teori justru dibangun secara induktif melalui penyelaman kehidupan sosial-masyarakat oleh ilmuwan sosial itu sendiri.

Perlu diakui, memang, dengan segala faktor penghambat yang melingkupi aktivitas ilmuwan sosial, penelitian-penelitian sosial masih tidak terlalu banyak-jika tidak dikatakan jarang-dilakukan sebagai penelitian murni, suatu aktivitas meneliti kehidupan sosial untuk pengembangan keilmuannya. Penelitian-penelitian insidental yang requested-heavy masih lekat dengan aktivitas ilmuwan sosial sehingga muncul positioning di benak masyarakat kebanyakan setiap menyebut kata ‘penelitian’ sebagai aktivitas mencari nafkah dengan proyek-proyek pesanan.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab ilmu sosial, terutama di Indonesia, tidak begitu berkembang dan menyentuh substansi persoalan masyarakat, apatah lagi diharapkan berkemampuan menjawab persoalan yang muncul dari ‘ketiak’ dinamika sosial.

Penelitian memang bukan kegiatan gratisan. Ia memang butuh dana memadai, di samping keterbatasan waktu yang dialami oleh ilmuwan sosial yang bersangkutan. Namun, bagi kalangan akademisi di kampus, memanfaatkan kegiatan penelitian para mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi dengan menggarap skripsi, tesis, bahkan disertasi, sedikit-banyak akan mengatasi persoalan pendanaan ini karena mereka melakukan penelitian dengan biaya mandiri.

Meminjam gagasan yang dilontarkan Prof. Dr. Eko Prasojo, jika para guru besar beserta akademisi lainnya yang selama ini terlalu berat pada kegiatan pengajaran lebih berkomitmen untuk menyusun konstruksi penelitian jangka panjang yang dibuat turunannya dalam jangka menengah dan pendek, kegiatan penelitian mahasiswa bisa diarahkan secara tidak langsung atau disinkronkan dengan konstruksi penelitian tersebut.

Dengan demikian, serpihan penelitian-penelitian mahasiswa tadi bisa dijadikan satu rangkaian mewujudkan konstruksi penelitian yang bersangkutan dengan tetap menjaga fleksibilitasnya untuk menjawab dinamika keseharian masyarakat yang berlangsung.

Kegiatan penelitian yang semakin bergeliat dengan titik berat pada penelitian murni tentu akan meningkatkan kualitas teori yang dihasilkan dan bobot ilmiah pendapat yang dikemukakan serta bisa dikembangkan agar lebih solutif terhadap persoalan sosial. Dengan semakin banyak meneliti, ilmuwan sosial diharapkan lebih banyak ‘melek’ atas kehidupan sosial yang riil, tidak lagi mengikuti arus opini dan rumor yang berkembang di media massa dan perbincangan common sense.

Jika ini terus dipertahankan sebagai tradisi, ilmuwan sosial tentu akan lebih banyak memosisikan dirinya di ‘menara air’, mampu melihat secara menyeluruh apa yang terjadi di ‘bawah’ dengan tetap melekat padanya untuk kemudian menghadirkan solusi yang menjawab substansi persoalan yang dihadapi masyarakat luas.

Defny Holidin
Pegiat Riset di Departemen
Ilmu Administrasi FISIP UI

1 Komentar

Filed under Concern

One response to “Ilmuwan di “Menara Air”

  1. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 27 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s