Cowok “Casing” Cewek

“Apa istimewanya wanita dan apa yang membuat wanita menarik?” demikian polling pendapat radio Wijaya FM Surabaya sewaktu peringatan Hari Kartini 21 April lalu. Kecerdasan, kecantikan, prestasi, dan kelembutan mereka, demikian jawaban rata-rata penelpon yang memang dikhususkan untuk pria. Apakah demikian adanya ?

Membicarakan wanita memang sebuah pembicaraan yang akan senantiasa menarik, namun juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan dimana wanita berada. Ketika suatu masyarakat memandang wanita bukan sebuah elemen sistem masyarakat yang penting, atau wanita dianggap hanya pemuas nafsu, maka tindakan yang dilakukan terhadap kaum wanita akan sesuai dengan pemikiran yang berkembang.


Faktanya, demikianlah kondisi kaum wanita yang terjadi di banyak tempat khususnya dalam sejarah bangsa Eropa dan Amerika. Mereka hanya dipandang sebagai pelengkap kehidupan, pelayan, hingga ada yang mempertanyakan apakah mereka termasuk jenis manusia ataukah setan?
Pengekangan, penganiayaan, kekerasan dan intimidasi adalah hal yang biasa mereka peroleh dalam kehidupan keseharian wanita Eropa dan Amerika. Hal inilah yang melahirkan gerakan emansipasi dan feminisme. Gerakan feminisme muncul seiring dengan revolusi industri yang terjadi di Eropa.
Tahun 1963 Gerakan emansipasi masuk agenda PBB, kemudian tahun 1967 terbentuk Commission On The status of Women. Pada 1975 diadakan konferensi pertama tentang wanita di Mexico City dan tahun 1975 disebut Tahun internasional perempuan dengan isu utama WID(women in Development) dan WAD (women and Development). Selanjutnya pada tahun 1979 dicetuskan CEDAW (Convention On the Elimination of All Form of discrimination Againts Women).
Tahun 1993 Growth Development Indeks ditambah GEM (Gender Empowerment Measure) yaitu kesetaraan gender (gender Equality). Dan pada tahun 1994 di Kairo, diadakan ICPD (International Conference Of Population and Development) yang menyimpulkan bahwa wanita adalah kunci penyelesaian masalah ledakan penduduk yang dapat dilakukan dengan “Empowerment of Women”.
Terakhir pada tahun 1995 di Beijing, ditetapkan Platform For Action(BPFA) yang dihadiri 189 negara dan isu utama adalah kesetaraan gender.

Apa yang terjadi ?
Pemikiran gender yang menjadi isu global menganggap peran wanita dalam kehidupan ditentukan oleh pemikiran /tradisi yang ada di masyarakat. Wanita menjadi ibu karena masyarakat menghendaki demikian. Maka ketika wanita diharapkan dapat berperan dalam sektor yang lebih luas, kaum wanita harus keluar dari belenggu pemikiran yang melingkupi masyarakat dan mengekang kaum wanita.
Para pencetus ide gender bahkan memandang peran wanita sebagai ibu sama sekali tidak ada hubungannya dengan “kodrat” mereka sebagai wanita. Wajar saja jika kemudian Indikator kesetaraan gender yang ditetapkan oleh mereka adalah perfect equality (50:50) antara pria dan wanita dalam semua hal. Artinya wanita harus diberikan kesempatan secara luas untuk dapat berperan sama dengan kaum pria.
Secara fitrah wanita dan pria memang diciptakan berbeda, baik secara fisik, maupun psikis. Lihatlah bukti ilmu kesehatan. Kepadatan tulang pria lebih besar dari wanita, fluktuasi hormonal wanita juga berubah ubah sesuai jadwal menstruasi mereka. Hal inilah yang secara natural mempengaruhi tingkat “moody” perasaan wanita yang kadang lebih sensitif dan berbeda dengan pria.
Penciptaan perbedaan ini tentu bukan tanpa tujuan namun karena dimaksudkan agar manusia baik pria maupun wanita dapat menjalankan peran sesuai dengan internal properties yang telah diberikan.
Pria sebagai pemimpin keluarga dan penanggungjawab keberlangsungan sistem masyarakat secara luas dan wanita sebagai pencetak generasi dan penanam karakter bagi pelaku sistem. Pembagian peran ini tentu saja tidak berarti bahwa wanita tidak punya hak sama sekali untuk belajar atau mengembangkan diri.
Pembagian peran antara pria dan wanita hanya dimaksudkan untuk konstruksi sebuah masyarakat yang seharusnya. Pembagian peran juga bukan berarti membuat posisi wanita lebih rendah dari pria. Seperti sebuah rumah, ada yang harus menjadi tembok dan ada yang harus menjadi lantai.
Isu gender yang lahir dari “kebencian dan hasrat balas dendam” telah melahirkan pemikiran yang keliru bahwa wanita harus “menjadi” pria. Secara fisik mereka wanita, yang mudah capek, kadang moody kadang sensi, namun jiwa mereka ingin berkuasa, tidak mau mengalah dan mendominasi.
Isu gender adalah sebuah proses pemaling fitrah cowok dengan casing cewek. Kadang wanita menjadi Semar Garang “semangat besar tenaga kurang”. Karena beban kerja yang banyak dalam kehidupan publik membuat wanita lelah dan dengan mudah membentak bahkan menampar anak yang harusnya merasa damai dalam dekapan tangan dan pelukan ibunya-seorang wanita-.
Lahirlah anak-anak “korban kekerasan (wanita) dalam rumah tangga yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Apa yang terjadi saat ini? Pembakaran, pembunuhan dan tindakan anarkis dilakukan dengan mudah oleh masyarakat yang notabene adalah “kumpulan anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga”. Jadi….gender adalah solusi ataukah hanya ilusi ? Widyastuti

1 Komentar

Filed under Concern

One response to “Cowok “Casing” Cewek

  1. gender? nyata dan bukan solusi…
    itu khan fakta yang ada di dunia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s