Amuk maut yang dilakukan oleh seorang pemuda kembali terjadi. Kali ini dilakuan oleh seorang mahasiswa asal Korea Selatan, Cho Seung-hui, yang berhasil memberondongkan peluru-peluru mautnya sehingga menewaskan 32 sivitas akdemika Virginia Tech University dan 1 peluru untuk dirinya sendiri. Pemuda yang pindah ke Amerika dengan maksud untuk mencari penghidupan yang lebih baik ini meninggalkan pesan yang menyebut ingin menghabisi para pembohong, dukun klenik, dan anak-anak kaya yang senang berpesta pora.
Manusia yang Labil
Erick Erickson dalam buku-bukunya yang bertajuk “Youth, Crisis and Identity” mengajak para pembacanya menerawang pentas perjalanan hidup lakon-lakon dunia seperti Luther dan Gandhi. Sang dedengkot psychoanalysis ini mengatakan bahwa usia muda merupakan tahapan umur yang relatif labil dalam kehidupan manusia. Mereka memasuki masa pencarian jati diri yang luput dari otoritas dan proteksi orang tua. Tahapan yang paling menentukan adalah tahapan terakhir masa muda yang umumnya merupakan masa pendidikan tersier di Perguruan Tinggi, yaitu sebagai mahasiswa.
Dalam konteks kebangsaan, ada korelasi yang kuat antara proses bangsa mencari identitasnya dengan proses generasi muda, terutama mahasiswa, dalam mencari jati dirinya. Gejolak generasi muda yang sarat bumbu-bumbu idealisme dan romatisisme ditambah beban bersifat kerakyatan dalam pembangunan bangsa, menjadi simbol tak terelakan dalam melatarbelakangi munculnya generasi 1928 sampai generasi 1945. Muncul pula tokoh-tokoh politik sampai teknokrat ekonomi sejak 1966. Sulit dilupakan pula agen-agen reformasi 1998 hingga generasi sekarang. Carut marut inilah yang merupakan perjalanan teatrikal anak bangsa yang demikian luar biasa sehingga interaksinya dianggap paling adiluhung dalam menggapai kebahagiaan bersama.
Eudaemonia Standar Ganda
Cho Seung-hui adalah pemuda yang sudah merasakan mahalnya ‘benda’ yang bernama kebahagiaan yang dalam bahasa inggris-nya dikenal sebagai Epicurean life atau ungkapan yang menggambarkan hidup yang menyenengkan. Aristoteles memberikan istilah bagi kondisi seperti ini dengan nama Eudaemonia.
Sayangnya, pemahaman mayoritas generasi muda mengenai Eudaemonia hanya berkisar pada kepemilikan materi. Dari sinilah tercipta masyarakat hedonis berciri konsumeris yang tentu saja, secara normatif, tidak etis ditengah mayoritas masyarakat yang masih di bawah standar kemiskinan. Gaya hidup hedonis yang bersih dari naluri spiritual secara tidak langsung mengebiri nalar pelakunya dalam menghadapi relita hidupnya.
Ambillah contoh mereka yang terjebak dalam lingkaran setan narkotika dan minuman beralkohol yang umumnya dipakai sebagai pelarian dari permasalahan hidup. Pemahaman seperti ini menyebabkan Eudaemonia memiliki ‘standar ganda’ karena barangkali terberendel oleh legalitas terhadap kebebasan. Tentu saja keadaan ini dioptimalkan sebaik mungkin oleh berbagai kalangan yang hapal benar para costumer-nya (baca, remajanya). Tayangan dan bacaan yang mengubar pornoaksi semakin atraktif dijajakan. Namun, bukan hal-hal tersebut yang ingin saya permasalahkan tetapi mengenai dampaknya terhadap generasi muda.
Dalam teori sosiologi, nilai kebebasan yang mengisi ruang publik, kemudian akan menjadi opini umum dan dengan segala manifestasinya maka terciptalah shared value (acuan nilai kultural yang disepakati bersama). Fase terakhir inilah yang paling horrorable. Bagaimana tidak, diakibatkan oleh terlalu bebasnya ruang publik dan terberendelnya pemahaman Eudaemonia, maka nilai-nilai nurani nan etis generasi muda akan tergantikan oleh nilai hedonis nan materialistis.
Pada akhirnya, rasa idealis, romantis, dan kebangsaan pada diri generasi muda, terbunuh dengan sendirinya. Bukan tidak mungkin kita akan menemukan Cho Seung-hui Indonesia karena terhimpit dan telah lelah melihat relitas lingkungan eksternal yang menimpa dirinya.
Hidup yang Dinikmati
Memang, shared value? Eudaemonia standar ganda? Belum tercipta sepenuhnya tapi bukankah menjadi hal yang sangat bijaksana apabila kita melakukan perubahan kultur (culture change) sebelum shared value tersebut benar-benar tercipta yang berdampak buruk terhadap generasi muda kita. Mengubah kultur (culture change) yang sudah cukup lama terpesona oleh eudaemonia standar ganda? pastilah mustahil hanya dengan diskusi atau khotbah saja. Proses perubahan harus terlihat. Pepatah mengatakan, “One showing is the same as a hundred saying”.
Selain itu, tampaknya kita harus meresapi celaan Ivan Illich, “Tidak sampai seratus tahun masyarakat industri telah berhasil membuat cetakan untuk menyelesaikan tuntutan keperluan manusia dan semuanya menundukan kita pada nurani bahwa kebahagiaan adalah suatu ketetapan dari Sang Pencipta”. Tampak gaya Gandhi pun menjadi relevan kembali bahwa kebijaksanaan adalah ketika kita dapat menilai posisi kita.
Sampai sejauh mana kita terjebak pada keterbelakangan yang menyesatkan. Dengan demikian, paradigma Eudaemonia “hidup yang nikmat” harus diubah menjadi “hidup yang dinikmati” dengan cara kesadaran nurani dan kebijaksanaan seluruh komponen bangsa.
Akhir kata, kembalikan kiblat historis generasi muda pada naturalnya, yaitu idealis, romantis, dan rasa kebangsaan yang tinggi karena ketiga hal tersebut yang membuat generasi terdahulu sukses melakoni panggung teatrikal yang demikian luar biasa sehingga menghantarkan bangsa ini pada kebahagiaan akan kemerdekaan.
Yudha Prama Djuanedi
Mahasiswa FE UI dan aktivis Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya UI